Siapkah koperasi menghadapi globalisasi??
Dalam Era globalisasi ini,di
Indonesia di butuhkan badan-badan usaha yang
mampu mensejahterakan masyakat diantaranya Dalam sistem perekonomian Indonesia dikenal ada tiga
pilar utama yang menyangga perekonomian Ketiga pilar itu adalah Badan Usaha
Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi.
Menurut UU No25 Thn1992,Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan
dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan
berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat
Untuk itu di
tuntut peran koperasi sebagai badan usaha
yang mampu Membangun dan mengembangkan
potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya
untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya
koperasi sebagai pilar ekonomi bangsa saat
ini semakin mencemaskan jika dibandingkan dengan badan usaha lainnya. Dilihat dari perkembangan koperasi Indonesia saat ini
sangat jauh dari peran koperasi itu sendiri, Dalam kata lain, di
Indonesia, setelah lebih dari 50 tahun keberadaannya, lembaga yang namanya
koperasi ini yang diharapkan menjadi pilar perekonomian nasional dan juga
lembaga gerakan ekonomi rakyat ternyata tidak berkembang dengan baik seperti koperasi-koperasi
di negara-negara maju. Oleh karena itu tidak heran kenapa peran koperasi di
dalam perekonomian Indonesia masih sering dipertanyakan dan selalu menjadi
bahan perdebatan karena tidak jarang
koperasi dimanfaatkan di luar kepentingannya.
Berdasarkan kenyataan yang dibahas di atas
,maka pertanyaan-pertanyaan penting sekarang ini adalah: bagaimana perkembangan
koperasi di Indonesia hingga saat ini dan bagaimana prospeknya ke depan di
dalam era globalisasi dan apa tantangan-tantangan utama yang sedang atau akan
dihadapi oleh koperasi Indonesia? Untuk
menjawabnya, dua hal yang harus dilihat terlebih dahulu, yakni sejarah
keberadaan koperasi dan fungsi yang dijalankan oleh koperasi yang ada di
Indonesia selama ini.
1. Dalam
hal pertama itu adalah apakah lahirnya koperasi di Indonesia didorong oleh
motivasi seperti yang terjadi di Negara Maju (khususnya di Eropa), yakni
sebagai salah satu cara untuk menghadapi mekanisme pasar yang tidak bekerja
sempurna.
2. Dalam
hal kedua tersebut, pertanyaannya adalah: apakah koperasi berfungsi seperti
halnya di Negara Maju atau lebih sebagai “instrumen” pemerintah untuk
tujuan-tujuan lain.
Mungkin perbedaan
yang paling besar antara koperasi di negara-negara lain, khususnya Negara Maju,
dengan di Indonesia adalah bahwa keberadaan dan peran dari koperasi di
Indonesia tidak lepas dari ideologi Pancasila
dan UUD 45, yakni merupakan lembaga kehidupan rakyat Indonesia untuk menjamin
hak hidupnya memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
sehingga mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur bagi seluruh rakyat
Indonesia
Jika koperasi diakui sebagai badan usaha, maka koperasi mestinya harus
seperti badan usaha lainnya. Maksudnya koperasi mestinya mengejar profit
sebesar-besarnya dengan langkah-langkah dan perhitungan bisnis seperti yang
biasa dilakukan oleh perusahaan lainnya. Namun hal ini sering bertentangan
dengan keinginan anggotanya yakni menyejahterakan anggota.
Globalisasi
itu sendiri ditandai dengan adanya pergerakan barang, modal dan uang dengan
bebas dan perlakuan terhadap pelaku ekonomi sendiri dan asing (luar negeri)
sama.
Sehingga era globalisasi sering menjadi dilema
bagi masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Kita tidak bisa membendung dan
menahan bergulirnya globalisasi di tengah-tengah masyarakat, yang bisa kita
lakukan adalah mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap tantangan
globalisasi.
Para pelaku koperasi seharusnya bersikap
reaktif dan antisipatif menghadapi globalisasi ekonomi. Bukan mengeluh dan
belum siap menghadapi globalisasi tanpa ada usaha dan kerja keras. Mengeluh
bukanlah merupakan jalan keluar dari ancaman globalisasi
Globalisasi ekonomi telah menjadi sistem
yang mendunia, tetapi tetap saja berada dalam lingkuan yang penuh kontroversi.
Di satu sisi globalisasi mempunyai dampak positif yaitu pasar terbuka, arus modal
tanpa pembatas, akan memaksimalkan efisiensi dan efektifitas ekonomi demi
terwujudnya kesejahteraan untuk semua. Sebaliknya dampak negatifnya kelompok anti globalisasi meyakini bahwa liberalisasi
ekonomi hanya akan menguntungkan yang kuat dan melumpuhkan yang lemah,
menciptakan kebangkrutan dan ketergantungan
negara
berkembang terhadap negara maju.Untuk itu dalam hal menyikapi globalisasi
ekonomi haruslah dengan kritis, hati-hati, dan penuh perhitungan.
Seperti contoh misalnya dampak perdagangan
Indonesia dengan Cina pasca ditetapkannya ACFTA,Membanjirnya produk dari Cina
di Indonesia, di satu sisi bisa menjadi pemicu bangkitnya UMKM/koperasi di
negeri kita untuk meningkatkan daya saing produksinya. Namun di sisi lain
murahnya produk dari Cina menguntungkan konsumen di negeri kita yang memiliki
kemampuan daya beli terbatas karena
Berpendapatan
rendah.
Sekarang ini, koperasi telah menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar ada di pedesaan, Untuk itu kita tidak berharap, era globalisasi menjadikan negeri kita semakin terpuruk yang disebabkan salah strategi dalam mengelola pembangunan ekonomi dan politik.
Sekarang ini, koperasi telah menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar ada di pedesaan, Untuk itu kita tidak berharap, era globalisasi menjadikan negeri kita semakin terpuruk yang disebabkan salah strategi dalam mengelola pembangunan ekonomi dan politik.
Sektor
usaha kecil dan koperasi mesti harus menjadi prioritas utama pemerintah dalam
membangun ekonomi bangsa menuju era globalisasi dengan beberapa strategis
seperi dinegara-negara maju.
1. Perlu
adanya perubahan,diharapkan koperasi memiliki daya saing dan sekaligus menjadi
daya tarik bagi anggota maupun masyarakat. Untuk meningkatkan daya saing,
paling tidak ada lima (5) prasyarat utama, yakni mereka memiliki sepenuhnya pendidikan,
modal, teknologi, informasi, dan input krusial lainnya. Banyak koperasi yang
gagal dan bangkrut disebabkan karena ketidaksiapan sumber daya manusianya.
2. Koperasi
perlu diarahkan pada prinsip pengelolaan secara modern dan aplikatif terhadap
perkembangan zaman(Globalisasi) dan tantangan yang semakin global. Untuk itu
perbaikan terhadap masalah pengelolaan manajemen dan organisasi perlu terus
dilakukan.
3. lingkungan
internal koperasi harus diperbaiki, yang mencakup aspek kualitas SDM, terutama
jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), penguasaan pemanfaatan teknologi dan
informasi, struktur organisasi, sistem manajemen, kultur/budaya bisnis,
kekuatan modal dan jaringan bisnis dengan pihak luar.
Di samping itu, lingkungan eksternal harus juga
kondusif, yang terkait dengan kebijakan pemerintah, aspek hukum, kondisi
persaingan pasar, kondisi ekonomi-sosial-kemasyarakatan, kondisi infrastruktur,
tingkat pendidikan masyarakat, dan perubahan ekonomi global
4. Tujuan
pendirian koperasi benar-benar untuk menyejahterakan anggotanya. Pembangunan
kesadaran akan tujuan perlu dijabarkan dalam visi, misi dan program kerja yang
sesuai, yang merupakan modal penting bagi pengelolaan koperasi secara
profesional, amanah, dan akuntabel. Untuk itu strategi kerja sama antar koperasi
maupun kerja sama dengan para pelaku lainnya dengan prinsip saling
menguntungkan perlu dikembangkan Koperasi mampu bertahan dalam perkembangan
global ini
5. Memperbaiki
kinerja koperasi.Salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur
kinerja koperasi adalah perkembangan volume usaha dan sisa hasil usaha (SHU).
Seperti halnya profit perusahaan, SHU sangat dipengaruhi oleh sisi permintaan
(harga dan volume penjualan efektif) dan penawaran (biaya produksi). Jadi, SHU mencerminkan tingkat efisiensi yang berbanding
lurus dengan tingkat produktivitas di koperasi.
6. Manajemen
dan organisasi yang baik juga merupakan faktor krusial dalam menentukan
keberhasilan suatu koperasi seperti perkembangan-perkembangan di Negara maju.
Salah satu hal yang dapat digunakan untuk mengukur “kecanggihan” sistem
manajemen dan organisasi yang diterapkan oleh koperasi adalah jumlah manajer
dan karyawan. Semakin canggih sistem manajemen semakin banyak jumlah manajer
(misalnya manajer keuangan dan manajer operasional) dan semakin besar
organisasi semakin banyak jumlah karyawan. Dalam hubungannya dengan SHU,
hipotesisnya adalah bahwa semakin bagus manajemen atau organisasi koperasi
semakin besar SHU-nya.
Untuk itu koperasi di Indonesia diharapkan dalam
mengahadapi zaman yang globalisasi ini harus bias bersaing dengan badan usaha
lainnya dan mampu bertahan seperti koperasi-koperasi di Negara maju. Siap tidak
siap koperasi di Indonesia harus Tetap bertahan di masa globalisasi ini balik
lagi kepada peran dan fungsi koperasi yang tujuannya utuk mensejahteraan
ekonomi rakyat khususnya anggota.
Daftar pustaka :
Tulus Tambunan dan Chairulhadi M. Anik,FORUM EKONOMI INDONESIA,Center for Industry, SME & Business Competition Studies( University of Trisakti)
PERKEMBANGAN KOPERASI DI INDONESIA:
PROSPEK DAN TANTANGAN DI DALAM ERA GLOBALISASI EKONOMI DAN LIBERALISASI
PERDAGANGAN DUNIA[1]
0 komentar:
Posting Komentar